Cabai Jamu Lebih Menguntungkan

Cabai jamu lebih menguntungkan

Foto ini menggambarkan seorang petani yang menunjukkan hasil panen cabe jamu (Piper retrofractum vahl) di perkebunan miliknya di Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (15/2)

Petani di daerah tersebut lebih memilih menanam cabai jamu karena selain perawatanya mudah, harganya juga lebih menjanjikan, stabil di kisaran Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogramnya. Bandingkan dengan cabai rawit yang jika sedang murah harganya sekitar Rp 35 ribu per kilogram atau lebih miring lagi.

Lalu apa itu cabai jamu? Wikipedia menyebutkan, Piper retrofractum vahl adalah jenis rempah yang masih berkerabat dengan lada dan kemukus, termasuk dalam suku sirih-sirihan atau Piperaceae. Cabai jamu ini juga biasa disebut cabai jawa, bahkan ada yang menyebutnya cabai saja, meski ini akan membuat rancu dengan cabai yang sekarang lebih populer (Capsicum annuum).

Produk perdagangan cabai jawa adalah untai yang dikeringkan, berguna sebagai bumbu masak dan berkhasiat pengobatan. Dalam perdagangan, seringkali untai kering ini dianggap sama dengan untai kering dari lada panjang (Piper longum), sehingga lada panjang pun juga sering disematkan pada cabai jawa.

Tumbuhan asli Indonesia ini populer sebagai tanaman obat pekarangan dan tumbuh pula di hutan-hutan sekunder dataran rendah (hingga 600 meter di atas permukaan laut). Produknya telah dikenal oleh orang Romawi sejak lama dan sering dikacaukan dengan lada. Di Indonesia sendiri buah keringnya digunakan sebagai rempah pemedas.

Sebelum kedatangan cabai (Capsicum spp.), tumbuhan inilah yang disebut “cabai”. Cabai sendiri oleh orang Jawa dinamakan lombok.

– Wikipedia

Tertarik mencoba cabai jawa sebagai alternatif cabai rawit yang harganya sekarang Rp 160 ribu per kilogram?

Cabai Jamu Lebih Menguntungkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas